
Yogyakarta, 1-2 Juli 2026 – Di dalam Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), para menteri dan pemerhati pendidikan nasional tengah membahas arah kebijakan pendidikan Indonesia. Namun, di halaman sekeliling auditorium, suasana berbeda terasa: riuh, penuh warna, dan sarat kreativitas. Pameran Inovasi Pendidikan yang mendampingi Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) menjadi panggung bagi Kapanewon Turi, Sleman, untuk menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal teori, tetapi juga karya nyata yang lahir dari tangan siswa, guru, dan masyarakat.

Sorotan utama datang dari siswa SMP N 1 Turi. Dengan penuh percaya diri, mereka memperkenalkan kursi roda adjustable bersensor jarak, kran otomatis dengan timer dan sensor bau, hingga kartu identitas siswa terintegrasi. Namun yang paling mencuri perhatian adalah detektor makanan basi untuk MBG. Alat sederhana namun cerdas ini akan mewakili DIY dalam lomba Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2026 tingkat nasional. Melihat anak SMP mampu menciptakan teknologi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, banyak pengunjung terkesan sekaligus bangga.
“Teknologi ini sangat bermanfaat. Hebat sekali siswa SMP sudah bisa menciptakan alat seperti ini,” ujar seorang pengunjung dengan mata berbinar.

Tak hanya teknologi, Turi juga menghadirkan kekayaan budaya dan alam. SMP N 3 Turi memperkenalkan budidaya parijotho, tanaman khas potensi lokal yang dapat diolah menjadi kue dan sirup. Di sisi lain, SD menampilkan maskot “Putri Nisa” yang memadukan simbol khas Turi: gaun bermotif parijotho, kepala Elang Jawa, dan mahkota buah salak. Selain itu juga menyuguhkan lukisan siswa, games berhadiah produk inovasi Sekolah Adiwiyata, serta karya tulis para guru. Sementara PAUD dan TK menghadirkan batik jumputan, ecoprint, serta games edukatif yang membuat anak-anak pengunjung tertarik.

Dengan mengusung tema “Turi Nyawiji Sembada Mandhegani” yang berarti seluruh elemen di Turi Bersatu dan siap memimpin perubahan ke arah lebih baik, Kapanewon Turi menyajikan dekorasi stand dari pelepah pohon salak yang juga menjadi bukti komitmen ramah lingkungan. Ikon kambing etawa berdiri gagah, menarik perhatian siswa yang berfoto riang di depannya. Susu kambing etawa, produk UMKM unggulan Turi, dibagikan gratis oleh FORKOM UMKM Turi untuk memperkenalkan potensi lokal dan eksistensinya dalam mendukung pemenuhan gizi anak sekolah.

Pengunjung juga dibuat nyaman dengan alunan musik gambang yang dimainkan secara langsung. Hal ini dilakukan karena setiap kalurahan di Turi memang memiliki kelompok seni karawitan, bahkan beberapa telah bekerja sama dengan sekolah untuk mengajarkan ekstrakurikuler karawitan.

Kerja keras dan sinergi antar jenjang pendidikan akhirnya berbuah manis. Puncak kebahagiaan datang ketika Stand Kapanewon Turi dinobatkan sebagai Stand Terbaik Ketiga, penghargaan yang diserahkan langsung oleh Najeela Syihab, founder Lingkar Daerah Belajar. Panewu Turi dengan penuh rasa syukur menyampaikan “Terima kasih atas sinergi dan kerja sama yang baik antar jenjang pendidikan di Turi. Prestasi ini adalah bukti bahwa kebersamaan membawa hasil yang membanggakan.”
Di tengah keseriusan konferensi di dalam auditorium, semarak pameran di halaman menjadi wajah lain pendidikan Indonesia: kreatif, inklusif, dan berakar pada budaya lokal. Dari teknologi buatan anak SMP hingga karya tangan kecil siswa PAUD TK, Kapanewon Turi menunjukkan bahwa pendidikan bisa melahirkan karya yang membumi sekaligus membanggakan. [PDK]

Be the first to comment